Gaji Wartawan Rendah Muculkan Budaya Amplop

    news
    Prof Rajab Ritonga

BANDUNG.-Merekrut wartawan dengan latar belakang non jurnalistik lebih menguntungkan dibanding wartawan dengan latar belakang ilmu komunikasi. "Wartawan dengan latar belakang ilmu ekonomi misalnya, akan lebih menguasai liputan bidang ekonomi dibandingkan dengan wartawan dengan latar belakang ilmu komunikasi," ujar Rajab Ritonga dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo  di di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, dihadiri wartawan dan dosen ilmu komunikasi dari berbagai kampus.

.Akibat kebijakan open policy SDM wartawan, tambahnya, wartawan menjadi minim pengetahuan bidang ilmu komunikasi terutama dalam memahami efek media dan filsafat komunikasi serta kode etik jurnalistik. "Untuk itu, perlu dipikirkan mekanisme untuk mengatur pendidikan profesi calon wartawan, yakni pendidikan profesi bidang jurnalisme sebagai pendidikan S2 yang diperuntukkan bagi semua lulusan S1 berbagai bidang ilmu yang akan bekerja sebagai wartawan," kata Rajab Ritonga yang juga Direktur Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat .

Dalam pidato pengukuhan berjudul 'Triple Helix Sumber Daya Wartawan Indonesia yang Terdidik dan Kompeten', Rajab menyebut bila program studi profesi jurnalisme terwujud maka SDM wartawan Indonesia akan menjadi profesional dan kompeten di bidangnya. "Sebab tidak lagi semua orang bisa menjadi wartawan seperti sekarang ini," katanya.

Budaya Amplop

Rajab menyebut jumlah wartawan saat ini mencapai 100.000 orang, sedangkan jumlah portal berita mencapai 43.000 dan surat kabar 2.000. "Dari jumlah itu baru sekitar 15.000 wartawan yang kompeten," ujar Prof. Rajab. Rajab juga mengulas rendahnya gaji wartawan yang bergaji minimal UMP. Bahkan, banyak yang masih bergaji di bawah UMP sehingga memunculkan budaya amplop dan penyimpangan fungsi dan tugas profesi wartawan.Hal itu terjadi, katanya, karena mudahnya mendirikan perusahaan pers, dan mudahnya merekrut wartawan."Banyak yang mau jadi wartawan meskipun bergaji rendah, bahkan tidak digaji," kata Rajab yang juga mantan Direktur SDM Kantor Berita Antara.

"Studi-studi terkait upah wartawan sejauh ini memperlihatkan tidak ada kenaikan signifikan atas tingkat pendapatan wartawan. Pendapatan wartawan Indonesia masih tetap rendah. Masih ada wartawan yang memperoleh upah sampai Rp 750.000 perbulan," jelasnya.

Meskipun Dewan Pers telah mengatur Standar Perusahaan Pers dengan 17 ketentuan, namun standar itu tidak sepenuhnya dipatuhi pengusaha media. Wartawan juga tidak menuntut perusahaan yang menggaji mereka tidak sesuai ketentuan perundang-undangan.

"Berbagai masalah kewartawanan yang ada saat ini bisa diurai dengan adanya regulasi yang mengatur pendidikan wartawan dan pendirian perusahaan pers," kata Rajab Ritonga dalam siaran pers yang diterima Bandungupdate. (Ua) ***

 

 

PT.Bandung Media Baru

Jl.Lodaya 69 Lantai II

022-7302186

Bandung - Indonesia

info[at]bandungupdate.com

redaksi[at]bandungupdate.com

Copyright 2015 Bandung Update. Published by bandungupdate.com

Back to Top